
Perjalanan Hidup yang Tidak Pernah Terdokumentasi
Dalam hidup, setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Ada yang lahir dalam kenyamanan, ada pula yang sejak kecil sudah harus menghadapi kerasnya kehidupan. Tetapi aku tumbuh dari seseorang yang tidak pernah mendapatkan kemewahan apa pun, selain kemewahan untuk tetap bertahan. Ibu, seorang perempuan yang pendidikannya terhenti bahkan sebelum ia mengenal dunia dengan lebih luas. Namun dari beliaulah aku belajar arti perjuangan sebenarnya, yang tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran mana pun.
Aku tumbuh sebagai anak dari seorang ibu yang tidak lulus Sekolah Dasar, tetapi ia mampu mengantarkan empat anaknya meraih gelar sarjana. Ironi yang indah sekaligus menyentuh. Terkadang aku memandang ijazah yang aku simpan rapi di lemari dan aku bertanya dalam hati, "Apa sebenarnya nilai dari selembar kertas ini dibandingkan nilai kehidupan yang ibu ajarkan selama bertahun-tahun?".
Sejak kecil, aku sering mendengar orang berkata bahwa pendidikan adalah jalan paling pasti untuk memperbaiki nasib. Aku mempercayainya, menjadikannya kompas hidup, dan menjadikannya alasan untuk terus melangkah maju meski berkali-kali terpeleset oleh rintangan yang tidak pernah kuterka. Namun semakin dewasa, semakin banyak kenyataan yang mengejutkan. Salah satunya adalah kenyataan pahit sekaligus indah, bahwa ibuku adalah seseorang yang membayar mahal pendidikanku tanpa pernah merasakan bangku pendidikan itu sendiri.
Di zaman sekarang yang serba modern dan penuh fasilitas, aku kadang masih bermalas-malasan. Aku masih bisa mengeluh lelah meski pekerjaanku tidak seberat apa yang ibu lakukan setiap hari. Aku masih kalah mental ketika memikirkan masa depanku yang belum jelas. Sementara ibu, yang hidup dalam keterbatasan dan tekanan zaman dulu yang jauh lebih keras, justru mampu bertahan dan menguatkanku setiap kali aku terpuruk oleh pikiranku sendiri.
Aku sering merasa bahwa pendidikan tinggiku seharusnya membuatku kuat, berani, dan siap menghadapi dunia. Namun pada kenyataannya, ibu yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan lengkaplah yang mengajarkan kepadaku keberanian yang sesungguhnya. Ia adalah sekolah kehidupan yang menyamar menjadi seorang ibu yang membesarkan keempat anaknya. Apa yang ia ajarkan tidak memakai kurikulum dan tidak memakai metode evaluasi, tetapi memberi dampak lebih dalam dibandingkan seluruh mata kuliah yang pernah aku jalani.
Dari tangannya, yang kasar karena kerja keras, aku justru belajar lebih banyak tentang kehidupan daripada yang kudapatkan dari lembaran buku kuliah dan ruang-ruang kelas yang dingin oleh AC. Semakin aku melihat gelar sarjanaku, semakin aku sadar bahwa pendidikan tidak hanya berada di bangku pendidikan. Tapi, pengalaman hiduplah yang sebenarnya menuntun kehidupan itu sendiri.
Pendidikan yang Terhenti dan Masa Kecil yang Terpaksa Menjadi Dewasa
Ibu sering menceritakan masa kecilnya bukan untuk mencari belas kasihan, tetapi karena itu adalah bagian penting dari siapa dirinya. Ia berhenti sekolah saat kelas 2 (dua) SD. Usianya masih sangat muda, bahkan mungkin belum mengerti apa arti pendidikan. Pada masa itu, sekolah bukan prioritas seperti sekarang.
Bukan karena orang tuanya tidak sayang atau karena ekonomi yang memaksa, melainkan karena cara pandang masyarakat waktu itu berbeda. Di zaman tersebut, banyak orang tua di daerahnya tinggal menganggap bahwa sekolah tidak sepenting bekerja. Belajar tidak dianggap membawa manfaat langsung. Sedangkan bekerja, membantu rumah, atau mencari uang meski sedikit, dinilai lebih berguna dan lebih nyata hasilnya.
Jadi ketika ibu kecil sering diminta membantu keluarga, itu bukan dianggap sebagai pengorbanan, tetapi sebagai "tugas alami" seorang anak perempuan pada zamannya. Tidak ada yang menanyakan apa cita-citanya, tidak ada yang memikirkan apakah ia masih ingin bersekolah. Cara pandang masyarakat saat itu membuat sekolah terlihat seperti sesuatu yang tidak harus dikejar. Dan dengan sendirinya, mimpi pendidikan ibu terhenti sebelum benar-benar mulai.
Bukan berarti ibuku tidak ingin bersekolah, justru sebaliknya. Ia pernah berkata bahwa sebenarnya ia masih ingin melanjutkan sekolah, masih ingin merasakan duduk di kelas dan belajar seperti anak-anak lain. Ada rasa ingin tahu dalam dirinya, ada keinginan untuk terus membuka buku pelajaran yang dulu sempat memberinya kebahagiaan kecil. Tetapi, keinginannya berbenturan dengan kenyataan yang jauh lebih keras.
Ibu merasa, bahwa ia harus membantu nenekku (ibunya). Apalagi setelah kakekku (ayahnya) meninggal, beban keluarga bertambah berat. Nenek harus membesarkan anak-anak selain ibukku seorang diri, dan tidak ada banyak pilihan selain meminta bantuan dari anak-anak yang masih kecil. Ibu dengan tubuh mungil dan umur yang belum matang, memutuskan untuk ikut memikul beban yang jauh lebih besar daripada dirinya. Ia berhenti sekolah, karena merasa harus membantu ibunya untuk bertahan hidup.
Ibu pernah bercerita bahwa setelah kakek meninggal, hidup keluarganya berubah drastis. Untuk itulah dirinya membantu menghidupi keluarga, dirinya ikut bekerja bersama saudara-saudaranya. Mereka pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan. Di awal-awal, ibu bekerja tanpa menerima bayaran. Ia hanya menganggap ikut orang lain bekerja adalah suatu permainan. Namun hari demi hari meski tenaganya kecil, tubuhnya belum kuat, tetapi ia mengerti arti bekerja karena merasa itu yang harus ia lakukan. Seiring waktu, ketika ia sudah bisa bekerja lebih banyak, barulah ia menerima bayaran meskipun jumlahnya kecil.
Masa kecil ibu berubah menjadi masa di mana ia harus dewasa lebih cepat. Ia belajar bagaimana membantu keluarga, bagaimana mengurus keluarga, bagaimana bertanggung jawab pada hal-hal yang jauh lebih besar daripada anak seusianya. Jika anak-anak lain masih memegang pensil dan buku, ibu memegang alat kerjanya.
Yang membuatku lebih terharu lagi, adalah bagaimana ibuku menerima semua hal itu tanpa menyalahkan siapa pun. Ia tidak pernah berkata, bahwa dunia tidak adil kepadanya. Ia tidak pernah mengeluh, bahwa mimpinya terpaksa terkubur. Ia hanya berkata, "Dulu di zaman saat itu. Tidak ada yang berpikir sekolah itu penting. Yang penting bisa membantu orang tua".
Ibu tidak pernah menyimpan penyesalan berkepanjangan, karena ia tumbuh dari keadaan itu. Ia ditempa oleh kehidupan, yang membuatnya dewasa sebelum waktunya. Sementara aku yang hidup di zaman modern, dengan segala kemudahan dan fasilitas, masih bisa mengeluh saat lelah belajar, masih bisa bermalas-malasan, masih bisa kalah mental memikirkan masa depan yang belum jelas. Tetapi ibu kecil dulu tidak punya waktu untuk memikirkan ketakutan seperti itu, ia hanya tahu bahwa ia harus berjalan.
Belajar Hidup Tanpa Bangku Pendidikan
Ketika pendidikan formal berhenti, kehidupan mengambil alih sebagai guru utama ibu. Ia belajar dari pekerjaan, belajar dari majikannya, dan belajar dari segala realitas kehidupan yang ia jalani. Ia belajar, bahwa hidup tidak pernah memberi jeda. Ia belajar bahwa jika ingin bertahan, maka harus bergerak meski dalam keadaan lelah.
Ibu bisa melakukan banyak hal tanpa pernah belajar di kelas. Ia bisa menghitung uang dengan cekatan, ia bisa memprediksi kebutuhan rumah tangga lebih teliti daripada orang yang belajar manajemen, ia mampu memahami karakter manusia, tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam, serta tahu bagaimana menghadapi orang dengan berbagai sifat. Ilmu itu tidak ia dapatkan dari guru atau buku, tetapi dari jam-jam kehidupannya dalam menghadapi realitas.
Tidak seperti ujian sekolah yang memberi waktu belajar sebelum mengetes, kehidupan ibukku mengetes lebih dulu baru mengajarkan pelajaran di belakangnya. Itulah mengapa, aku menganggapnya bahwa ia belajar langsung dari realitas. Dari pekerjaan yang menuntut tenaga, dari lingkungan yang tidak memberi ruang untuk manja, dan dari keadaan yang tidak bisa dipilih.
Yang paling membekas bagi aku, adalah bagaimana kehidupan membentuk kepribadiannya. Ibu menjadi perempuan yang kuat bukan karena ia ingin terlihat tangguh, tetapi karena hidup memaksanya begitu. Ia menjadi mandiri bukan karena bangga, tetapi karena tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya.
Waktu aku masih kuliah dulu, ketika aku mulai mengeluh tentang tugas kuliah, tentang jadwal padat, atau tentang rasa lelah belajar, ibuku hanya tersenyum. Senyum yang dalam itu artinya karena ia paham, bahwa apa yang kuhadapi tidak seberapa dibanding perjuangannya dulu. Dan memberi sekelumit pesan "Semangat, kalau kamu hidup di zaman ibu, tantangannya akan jauh berkali-kali lipat dari ini".
Aku sering bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah belajar psikologi bisa dengan mudah membaca tekanan emosiku? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah belajar ilmu motivasi bisa menenangkanku saat aku kalah mental memikirkan masa depan? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah diberi kesempatan bermimpi bisa mengajarkan anaknya mengejar mimpi setinggi mungkin?.
Perempuan yang tidak lulus SD itu menenangkan seorang sarjana yang sedang kalah mental. Ironis, tetapi nyata. Dan dari situ aku kembali belajar bahwa ketenangan tidak selalu datang dari pendidikan tinggi, namun dari kebijaksanaan hati yang ditempa oleh waktu. Di balik tangan yang kasar karena pekerjaan, ada hati lembut yang selalu mendoakan keberhasilanku. Di balik tubuh yang sering lelah, ada tekad kuat agar aku bisa meraih apa yang tidak pernah ia miliki.
Empat Anak Sarjana, Mimpi yang Ia Bayarkan Dengan Keringatnya
Aku sering memikirkan, bagaimana mungkin seorang perempuan yang tidak tamat SD bisa membesarkan empat anak yang semuanya akhirnya menempuh pendidikan tinggi. Semakin kupikirkan, semakin aku merasa kecil. Gelar sarjanaku terasa sangat ringan, jika dibandingkan dengan beban yang pernah ia tanggung sendirian.
Sehari-hari, ibuku bekerja tanpa mengenal pagi, petang, bahkan malam. Usaha laundry keluarga kami menjadi saksi betapa ia menukar tenaga, waktu, dan istirahat demi pendidikan kami. Dari memisahkan pakaian, mencuci, mengeringkan, menyetrika, hingga melipat, ia lakukan semuanya dengan sepenuh hati.
Ketika pekerjaan di rumah tidak cukup, ibuku mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh setrika di laundry tetangga. Setelah sholat Isya, ketika banyak orang sudah bersiap tidur, ibuku justru memulai pekerjaan keduanya. Panas setrika, seolah tidak lagi menakutkan baginya. Lelah, bukan lagi alasan untuk berhenti. Ia hanya punya satu tujuan, yaitu memastikan kami anaknya meraih apa yang tidak pernah bisa ia gapai.
Tetapi, perjuangannya tidak selalu ditemani. Sejak ayahku meninggal pada tahun 2013, semua beban seolah jatuh hanya pada satu pasang bahu, yaitu bahu seorang ibu yang sebelumnya terbiasa berbagi peran. Ayah selalu berpesan bahwa sekalipun keluarga kami hidup sederhana bahkan waktu itu lebih banyak kekurangannya, pendidikan harus berada di tempat tertinggi. Ia pernah mengatakan, "Sekurang-kurangnya keluarga kita, sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi. Itu satu-satunya warisan yang bisa kita tinggalkan untuk masa depan".
Bukan menjadikannya beban justru kata-kata itu terus dipegang ibuku, bahkan setelah orang yang mengucapkannya tiada. Seolah amanah itu menyalakan api baru dalam dirinya, membuatnya semakin keras bekerja, semakin besar ketulusannya, semakin kuat niatnya untuk melihat anak-anaknya berdiri di tempat yang lebih tinggi daripada dirinya. Dan perlahan, amanah itu akhirnya terwujud.
Anak pertamanya, berhasil menjadi sarjana pendidikan. Kini ia berdiri di depan kelas, menjadi guru yang menuntun murid-muridnya seperti dulu ibu menuntunnya. Setiap kali melihatnya memakai seragam mengajar, aku selalu berpikir bahwa sebagian dari mimpi yang dikubur ibu di masa kecil kini hidup di dalam diri anaknya.
Anak keduanya, menempuh pendidikan teknik informatika. Setelah lulus, ia bekerja membantu bisnis paman kami. Ia mungkin jarang bercerita tentang pekerjaannya karena jauh di luar kota, tetapi aku tahu ia bangga bisa menunjukkan kepada ibuku bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.
Anak ketiganya, juga menjadi sarjana pendidikan. Sama seperti kakak pertama, ia memilih menjadi guru. Dua guru lahir dari rahim seorang ibu yang tidak pernah merasakan bangku sekolah lebih dari dua tahun. Dan anehnya, keduanya tumbuh menjadi pendidik yang sabar dan disiplin, sifat yang jelas mereka warisi dari ibu.
Dan anak keempat, adalah aku. Aku menempuh pendidikan sosial, dan menjadi sarjana sosial. Setelah lulus, aku memilih menjadi wirausaha, bukan karena aku tidak bisa bekerja di luar rumah, tetapi karena ibuku memilihku untuk tetap berada di dekatnya. Kakak-kakakku semuanya bekerja jauh dari rumah, dengan kehidupan dan tanggung jawab masing-masing. Dua kakakku yang guru memang masih bekerja di kota yang sama, namun pulangnya selalu sore. Maka tinggal aku yang berada di sisinya setiap waktu, bekerja bersamanya, dan mengelola usaha kecil kami (Petshop dan laundry) di lingkungan rumah.
Kadang ada keluarga atau tetangga yang bertanya dengan nada heran, "Sarjana kok kerja di rumah?, nggak pingin nyoba-nyoba kerja kemana gitu ta?". Seolah-olah gelar harus selalu dibarengi pekerjaan di kantor besar atau gaji tinggi. Mereka tidak pernah tahu alasan di balik pilihanku. Mereka tidak tahu bahwa akulah anak yang ditunjuk ibu untuk tetap berada di sisinya, menjaga usaha yang telah ia bangun dengan keringatnya, sekaligus menggenggam amanah yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tetapi sangat jelas terasa.
Pernah suatu hari aku bercerita kepada ibu tentang komentar-komentar itu, tentang bagaimana aku sempat merasa kecil hati. Namun seperti biasa, ibu hanya menatapku sambil memberi wejangan. Ia berkata, "Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu ikhlas. Orang tidak hidup di rumah kita, jadi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi". Kata-katanya menenangkan hatiku lebih dari penjelasan apa pun yang bisa kuberikan kepada orang lain.
Aku, bukan hanya anak bungsu. Aku adalah saksi paling dekat dari tiap tetes keringat ibuku yang mengalir bertahun-tahun. Aku melihat bagaimana ibu bekerja tanpa henti, bagaimana ia memaksakan tubuhnya bergerak meski jelas rasa lelah menempel di wajahnya. Justru karena itulah, sangat wajar bagiku untuk tinggal di sisinya, menjadi tangan tambahan yang ia butuhkan, menjadi penerus kerja keras yang dulu ia dan ayah bangun bersama.
Mungkin kalimatku ini terdengar seperti pembelaan diriku sendiri, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Ibuku beberapa kali memperingatkanku dengan lembut bahwa aku harus ada di rumah, apalagi ketika satu anaknya kerja di luar kota dan dua anaknya kerja hingga sore hari menjelang petang. Jika meninggalkanya, aku takut membuat hatinya terluka.
Kini empat anaknya, telah menjadi sarjana. Bukan dari keluarga kaya, bukan dari keluarga berpendidikan tinggi, bukan pula dari keluarga yang hidup dalam kemudahan. Kami adalah anak-anak dari seorang ibu yang pendidikannya terhenti di kelas dua SD, dan seorang ayah lulusan STM yang membawa amanah pendidikan hingga akhir hayatnya. Dari dua sosok itu kami belajar bahwa masa depan hanya bisa dibangun dengan kerja keras, keikhlasan, dan cinta yang tidak pernah menuntut balasan.
Empat ijazah sarjana, tersimpan rapi di lemari rumah kami. Tetapi, tidak ada satu pun dari ijazah itu yang lebih berat daripada perjalanan hidup ibu dan amanah terakhir ayah.
Aku Menyadari Ijazahku Tidak Ada Apa-Apanya Dibanding Pengorbanannya
Aku belajar banyak hal di kampus, mulai dari teori, metode, analisis, hingga konsep besar tentang hidup dan bermasyarakat. Namun tidak ada satu pun, yang mengajarkan ketabahan seperti ibuku. Tidak ada dosen yang mengajarkan cara bertahan dalam kesulitan, dengan hati seluas lautan. Tidak ada mata kuliah yang mengajarkan bagaimana tetap tersenyum meski kelelahan, atau bagaimana menenangkan ketika diri sendiri sedang rapuh.
Di tengah kehidupan modern yang penuh fasilitas ini, aku sering mengeluh dan bercerita. Tentang pekerjaan, tentang masa depan, serta tentang rasa takut gagal. Aku pernah kalah mental, pernah merasa tidak sanggup melanjutkan langkah, pernah terperangkap dalam pikiran sendiri yang gelap dan menyesakkan. Namun ketika aku terpuruk, ibuku justru menjadi orang pertama yang menenangkanku.
Pendidikan tinggiku tidak pernah bisa menyamai keteguhan ibu yang hidup tanpa pendidikan formal. Teoriku tentang manajemen waktu, tidak ada apa-apanya dibanding caranya membagi tenaga dan jam kerja dalam sehari. Ilmuku tentang strategi bisnis, tidak sebanding dengan cara instingnya membuat usaha laundry dan petshop keluarga kami tetap berjalan di tengah kondisi sulit.
Pengetahuanku tentang psikologi, tidak mampu menyamai cara ibuku menenangkan anak-anaknya saat kami merasa hidup ini kejam. Cara ibu menilai kehidupan, jauh lebih tulus dan bijak daripada banyak orang berpendidikan tinggi yang pernah kutemui.
Gelar S1 yang kubanggakan terasa kecil sekali, ketika aku membandingkannya dengan hati ibu. Keteguhan dan kebijaksanaannya, jauh lebih tinggi daripada angka IPK mana pun. Ia memiliki penilaian hidup, yang tidak pernah ada di kelas manapun. Dan di titik itu aku sadar bahwa pendidikan terbesar dalam hidupku tidak berasal dari kampus, tetapi dari rumah kecil yang penuh dengan ketulusan seorang ibu.
Ijazahku, memang membuktikan bahwa aku pernah belajar di bangku perguruan tinggi. Tetapi ibuku membuktikan jauh lebih besar, bahwa ia mampu membangun kehidupan dari nol. Dan nilai itulah, yang tidak bisa dikalahkan oleh selembar kertas bergelar S1. Ibuku dan almarhum ayahku memulai semua dari nol bisa membeli rumah, memulai usaha, dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, sedangkan aku bisa apa? Aku hanya bisa When ya punya itu? When ya bisa gitu? dan When ya yang lainnya.
Ketika aku menulis semua ini, aku sadar bahwa aku tidak hanya sedang menceritakan perjuangan ibuku, tetapi juga sedang mengingatkan diriku sendiri bahwa pendidikan sejati tidak hanya tentang gelar. Pendidikan sejati adalah tentang hati, tekad, ketulusan, dan keberanian untuk bertahan ketika hidup menuntut lebih banyak dari diri kita.
Ibuku adalah pendidik paling penting dalam hidupku. Tanpa gelar, tanpa ijazah, dan tanpa kelas formal. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan jauh lebih kuat daripada teori mana pun yang pernah kupelajari di waktu perkuliahan.
Ia mungkin tidak lulus SD, tetapi ia lulus dari ujian kehidupan yang tidak pernah aku jalani. Dan dari kelulusannya itulah aku belajar tentang arti syukur, arti kerja keras, arti ketulusan, dan arti cinta yang tidak pernah menuntut sebuah balasan.
Hari ini, ketika aku melihat ke belakang, aku sadar bahwa perjalanan hidupku hanyalah lanjutan dari perjalanan panjang yang telah ibuku mulai sejak kecil. Aku berdiri di atas fondasi yang ia dan ayahku bangun dengan keringatnya, dengan doa yang tidak pernah diucapkan keras-keras, dan dengan cinta yang tidak pernah ia minta imbalannya.
Aku mungkin seorang sarjana, tetapi ibukulah gelar tertinggiku. Dan untuk almarhum ayahku, aku tidak akan pernah melupakannya.
Posting Komentar untuk "Aku Sarjana, Ibu Tak Lulus SD, Tapi Ijazahku Tak Setimpal dengan Pengorbanannya"